Tari Prajuritan adalah kesenian tradisional berbentuk tarian massal yang pertama kali muncul di Desa Getasan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Tarian ini kemudian berkembang ke wilayah lain di Kabupaten Semarang dengan versi asal-usul dan tema yang berbeda-beda, antara lain Kecamatan Ambarawa, Kecamatan Banyubiru, Kecamatan Sumowono, dan Kota Ungaran. Tarian tersebut juga berkembang di Kota Salatiga, tepatnya di Desa Tegalrejo, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga. Unsur-unsur yang terkandung di dalam tarian itu meliputi busana, tata rias, gerakan, dan alat musik. Tarian tersebut memang termasuk ke dalam kategori tarian kelompok, tetapi jumlah penarinya terkadang disesuaikan dengan kebutuhan dan luasnya tempat pementasan. Tarian ini di sisi lain bukanlah tarian kreasi baru yang lebih dinamis dan memiliki banyak variasi sesuai dengan selera anak muda. Hal ini disebabkan karena gerakan dan iringannya cenderung monoton. Tarian rakyat itu juga jarang ditampilkan, sehingga masyarakat kurang mengapresiasinya, bahkan tidak sedikit yang belum mengetahuinya.
Prosesi tarian ini kental dengan nuansa peperangan, yang dapat dilihat dari pakaian penari dan gerakannya yang membawa senjata mengikuti iringan organ gamelan. Tarian tersebut dalam pelaksanaannya telah mengalami perubahan seiring perkembangan zaman dan berbagai faktor yang memengaruhinya. Salah satu faktor intrinsik perubahan dalam tarian ini dapat dilihat dari perubahan komposisi penari. Pada awal kemunculannya, tari ini ditarikan oleh penari laki-laki, tetapi saat ini juga ditarikan oleh penari wanita. Selain itu, pengaruh nyata terhadap penampilan tarian ini adalah lagu-lagu modern yang ditampilkan untuk mengiringinya. Adapun faktor ekstrinsik yang mendorong perubahan komposisi penari adalah alasan ekonomi dan pasar, bukan semata-mata alasan fungsional seni sebagai hiburan.
Tema dan gerakan dalam tari Prajuritan ditengarai diambil dari kisah Arya Panangsang (Arya Jipang) yang gugur setelah berperang dengan Sutawijaya (Panembahan Mataram ke-1). Arya Panangsang bukanlah nama yang asing di wilayah Jawa Tengah. Menurut sejumlah tradisi lisan, dia dianggap sosok sakti yang sulit untuk dibunuh. Cerita rakyat tersebut di sisi lain belum dapat dipastikan keasliannya dengan bukti empiris, tetapi keberadaannya dapat dipastikan menurut naskah kuno Serat Babad Tanah Jawi versi J.J. Meinsma (1874).
Arya Panangsang adalah putra dari Raden Kikin (Surowiyoto). Dia mewarisi jabatan ayahnya menjadi Adipati Jipang, bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Demak yang berpusat di Blora. Beberapa sumber menyatakan wilayah Kadipaten Jipang meliputi Bojonegoro, Rembang, Lasem, sebagian Tuban, sebagian Semarang, dan sebagian Salatiga. Bagi masyarakat Salatiga, kedudukan Panangsang dianggap tinggi karena merupakan keturunan dari Raden Patah berdasarkan silsilahnya. Dia juga disebut sebagai murid kesayangan Sunan Kudus.
Pakar Kebudayaan Jawa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Djumarwan, menjelaskan tema dalam tari Prajuritan yang mengadopsi kisah Arya Panangsang merupakan upaya menghidupkan kembali budaya pesisir. Budaya ini berhadapan dengan budaya pedalaman yang saat itu berpusat di Mataram. Dosen Program Studi Ilmu Sejarah itu mengakui bahwa kisah leluhur yang diklaim itu memang ada sejarahnya. Mereka merasa memiliki identitas lokal sama, yang kemudian diwakilkan dengan tokoh Arya Panangsang. Sosok tersebut dan Jipang adalah memori kolektif yang berusaha dimunculkan oleh masyarakat setempat. Namun, dia menggarisbawahi narasi yang dibangun masyarakat tentang memori Kadipaten Jipang itu sesuai dengan tempat, tokoh, alur, latar, dan pesan moral dari sejarah yang tepat.
Tari Prajuritan hanya dipentaskan dalam acara tertentu, yaitu Saparan dan festival kesenian Kota Salatiga, tetapi kesenian ini tetap dilestarikan dan dikembangkan secara turun-temurun sampai saat ini. Kesenian tersebut dalam penyelenggaraan kegiatan Saparan memegang peranan penting sebagai salah satu bagian utama dari prosesi upacara ritual yang berhubungan dengan tanah, dalam hal ini adalah sawah yang dimiliki oleh masyarakat setempat. Mereka berharap hasil bercocok tanamnya akan melimpah jika Tari Prajuritan dan Tayuban dipentaskan dalam Saparan.
Selain memegang peranan penting sebagai bagian dari tradisi Saparan, tarian tersebut juga digunakan sebagai hiburan masyarakat.
sumber
https://id.wikipedia.org/wiki/Tari_Prajuritan








0 komentar:
Posting Komentar